Pendidikan: Pembelajaran dan Pelatihan

PENDIDIKAN, PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN

(Batasan dan Perbedaannya)

Oleh: M.Yusuf T.

 

A. Pendahuluan

Tema pendidikan diyakini sebagai tema kunci peradaban modern oleh karena perannya sebagai pusat perubahan konstruktif belum tergantikan di dunia manapun hingga saat ini. Meski demikian, perhatian terhadap sektor pendidikan belumlah semaksimal terhadap pilar perada-ban lainnya seperti teknologi, suatu disiplin yang lahir karena kemajuan pendidikan. Menarik mengutip amatan Theodore R.Sizer, mantan Dekan Fakultas Pendidikan Harvard, “sebuah kualitas yang aneh dalam pendidikan adalah bahwa, sementara kebanyakan orang mengalaminya secara pribadi, hanya segelintir yang mempelajarinya secara serius” (O’neil, 1981).

Patut dicatat bahwa semakin besar suatu negara semakin besar perhatiannya terhadap sektor pendidikan. Hampir semua entitas meletakkan fondasi kebangsaannya di atas filosofi “berpendidikan”.Negara-negara maju umumnya mengembangkannya merambat dari satu fase sejarah ke fase sejarah berikutnya. Amerika misalnya, memandang pendidikan sebagai filosofi dasar berdemokrasi yang jika ditelusuri ke belakang sangat dipengaruhi oleh pioneer mereka seperti John Dewey. Dewey menyebutkan bahwa pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan dasar secara intelektual dan emosional dapat dirumuskan sebagai teori umum yang tidak tersubordinasi oleh apapun (Dewey: 1916). Dapat dipahami mengapa pemimpin Amerika seperti John F.Kennedy menyalahkan sekolah sebagai refresentasi buruki kualitas sumber dayaAmerika ketika dilanda krisis tahun 60-an[1].

Semangat sama dapat ditemukan dalam dasar bernegara Republik Indonesia. Dalam pembukaan UUD 45 disebutkan tujuan berbangsa adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Prasa mencerdaskan menunjukkan betapa para founding fathers sejak awal melihat kunci survive bangsa ini adalah pendidikan. Jika dua bangsa ini, Amerika dan Indonesia dibandingkan, terlihat dua jalan berbeda orientasi pengem-bangan pendidikan masing-masing. Amerika modern memandang pendi-dikan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi, sementara Indonesia sebaliknya, ekonomi adalah bagian penting bagi pembangunan pendidikan. Mungkin karena itu tidak ada tokoh atau pemimpin yang menyalahkan sekolah di tengah marak “kejahatan struktural” di negeri ini.

Tulisan ini coba mengulas dua ranah penting pendidikan; ranah makro yakni pendidikan itu sendiri, dan ranah mikro yakni praksis pendidikan, pembelajaran dan pelatihan. Dua ranah yang berkaitan secara sinergis.

 

B. Pendidikan

Pendidikan secara umum berarti setiap tindakan atau pengalaman yang memiliki efek formatif pada karakter, pikiran atau kemampuan fisik dari individu. Secara teknis, pendidikan adalah proses dimana masyarakat sengaja mentransmisikan akumulasi pengetahuan, keterampilna dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi.

Pendidikan yang merupakan terjemahan dari education (Inggris) secara etimologis adalah derivat kata educare (Latin) yang berarti “bring up” (mendidik atau membesarkan). Kata itu berhubungan dengan educere yang berarti “bring out” (mengeluarkan atau memunculkan) dan ducere yang berarti “to lead” (memimpin).

Dari berbagai kosa kota tersebut dapat ditarik beberapa kata kunci penting untuk mendefenisikan pendidikan yaitu: mendidik, membesarkan, mengeluarkan, memunculkan dan memimpin. Jika kata-kata itu diramu, maka dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah upaya mendidik, membesarkan anak dengan mengeluarkan atau memunculkan kemampuan potensialnya untuk memimpin dirinya menuju masa depan.

Dalam perkembangannya, pendidikan didefenisikan dalam berbagai cara. Driyakara mendefenisikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda. Makna memanusiakan manusia muda lebih lanjut disebutkan sebagai proses mengangkat manusia muda ke taraf insani.Karena itu, pendidikan juga adalah proses untuk menuntun anak menggunakan kemampuan kodratinya agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara, 1977).

Taraf insani yang dimaksudkan oleh Driyakara adalah tahap dewasa (mature) yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk memilih dengan berbagai pertimbangan. Dalam tradisi Islam tahap dewasa disebut baligh yang menjadi syarat melekatnya kewajiban atas individu.

Pendidikan juga mengalami teoritisasi sehingga muncul istilah teori pendidikan. Teori yang berarti pendidikan adalah teori yang ditujukan terhadap aplikasi dan interpretasi pendidikan dan pembelajaran. Beberapa teori menggunakan pendekatan deduktif dan ada yang induktif. Meskipun demikian, teori pendidikan menjadi sangat penting karena telah menjadi istilah umum untuk berbagai pendekatan ilmiah dalam pengajaran, assesment dan penyusunan regulasi pendidikan. Beberapa pendekatan itu dapat disebutkan:

1.    Pendekatan ekonomi. Teori ini menyebutkan bahwa pendidikan esensial untuk membangun perekonomian suatu negara. Prediksi teoretisnya bahwa negara-negara miskin harus tumbuh lebih cepat dari negara-negara kaya karena mereka bisa mengadopsi teknologi majusesudah dicoba dan diuji oleh negara-negara kaya. Transfer teknologi memerlukan manajer berpengetahuan dan teknisi yang mampu mengoperasikan mesin-mesin baru untuk menutup kesenjangan keduanya. Oleh karena itu, kemampuan negara untuk belajar merupakan “human capital” berharga bagi suatu negara.

2.    Pendekatan sejarah. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis perkembangan pemikiran dan praktek pendidikan dari masa ke ma-sa. Hasilnya penting karena evolusi kebudayaan dan bahkan kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari cara-cara manusia mentransmisikan pengetahuannya. Pendekatan ini juga melahirkan teori tentang pengembangan pengetahuan dalam kebudayaan manusia hingga melahirkan sistem sekolah.

3.    Pendekatan filsafat. Menyebut filsafat pendidikan berarti menggunakan filsafat sebagai alat analisis bagi pendidikan dan masalah-masalahnya. Bisa juga dimaksudkan sebagai disiplin yang mengkaji tujuan-tujuan, bentuk-bentuk, metode-metode, atau hasil dari proses didik atau menjadi terdidik. Pendekatan ini juga disebut metadiciplinary merujuk pada objek kajiannya; konsep, tujuan, dan metode-metode yang dikembangkan dalam lapangan pendidikan.

4.    Pendekatan psikologi. Psikologi mempelajari cara-cara manusia belajar dalam setting pembelajaran, intervensi untuk mengefektifkan pembelajaran, psikologi pengajaran (melahirkan educational psichologists), dan psikologi sosial dalam kaitannya dengan sekolah sebagai organisasi (melahirkan school psichologists).Oleh karena asumsi psikologi tidak dapat diterapkan secara langsung dalam pendidikan (pedagogy) (Snelbecker, 1974), maka dari perspektif ini berkembang dan berelasi dengan disiplin lain dan melahirkan beberapa disiplin seperti instructional design, teknologi pendidikan, pengorganisasian belajar, pendidikan khusus dan managemen kelas (Lucas, Blazek, & Raley, 2006).

5.    Pendekatan sosiologis. Pendekatan ini mempelajari bagaimana institusi sosial mempengaruhi proses dan hasil pendidikan atau sebaliknya. Berbagai studi menyebutkan bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai alat mengatasi berbagai masalah sosial, wadah mencapai kesetaraan sosial serta kesejahteraan dan status lainnya (Sargent, 1965).

C. Pembelajaran

Pembelajaran adalah implementasi praktis pendidikan. Pembelaja-ran merupakan terjemahan kata instructional. Ada kata lain yang kadang-kala dipahami sama dengan pembelajaran yaitu belajar-mengajar. Meski-pun demikian, beberapa ahli menyebutkan bahwa pembelajaran secara paradigmatik berbeda dengan belajar-mengajar (teaching). Paradigma pembelajaran diasosiasikan dengan paradigma leaners-centered sebagai anti-thesis paradigma teacher-centered yang memposisikan guru sebagai pusat transformasi nilai belajar.

Apapun paradigmanya, pembelajaran berhubungan dengan aktifitas belajar baik oleh peserta didik maupun pendidik. Belajar adalah memperoleh pengetahuan baru atau memodifikasi yang ada, perilaku, keterampilan, nilai, atau preferensi dan bisa melibatkan sintesa berbagai jenis informasi. Kemampuan untuk belajar dimiliki oleh manusia, hewan dan beberapa mesin.

Belajar sendiri diteorisasi dalam banyak cara. Teori-teori itu dapat dikenali dalam beberapa paradigma antara lain:

1.    Paradigma fungsional; Thorndike, Skinner, Hull.

2.    Paradigma asosiasistik; Pavlov, Guthrie, Estes.

3.    Paradigma kognitif; Teori Gestalt, Piaget, Tolman, Bandura.

4.    Paradigma neuropsikologis; Hebb.

5.    Paradigma evolusioner; Bolles.

Paradigma pertama disebut fungsionalistik karena mencerminkan pengaruh Darwinisme yang menekankan pengaruh antara belajar dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Paradigma kedua disebut asosiasistik karena mempelajari proses belajar dalam terminologi asosiasi yang dipengaruhi oleh Aristoteles dan dikembangkan oleh Locke, Barkeley dan Hume. Paradigma kognitif dipengaruhi oleh tradisi idealisme Plato melalui Descartes, Kant, dan para psikolog yang menekankan sifat kognitif dalam belajar. Paradigma keempat disebut neuropsikologis karena berusaha mengisolasi korelasi neurofisiologis dari hal-hal seperti belajar, persepsi, pemikiran, dan kecerdasan. Paradigma ini adalah manifestasi dari rangkaian riset yang diawali dengan pemisahan antara tubuh dan pikiran oleh Descartes. Perkembangannya sekarang berupaya kembali menyatukan proses fisiologis dan mental. Paradigma terakhir disebut revolusioner sebab teori-teorinya mengacu pada sejarah evolusi proses belajar organisme (Ornstein at all, 2004).

Pembelajaran dapat pula dibedakan menurut bentuknya, formal dan non-formal learning. Pembelajaran formal ditandai dengan keberlangsungan belajar pada suatu tempat dimana terjadi interaksi diantara guru dan siswa atau siswa dengan siswa. Bentuk ini banyak ditemukan dalam sistem sekolah. Sementara pembelajaran non-formal berlangsung dalam suasana interaksional yang lebih bebas. Dewasa ini dikembangkan pembelajaran yang mengkombinasikan formal, informal, dan non-formal pembelajaran. Kombinasi itu dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih nyata di dalam sistem pembelajaran.

Domain pembelajaran dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis (taxonomi Bloom); cognitive, afective, dan psychomotor. Masing-masing domain mewakili perilaku tertentu. Cognitive menunjukkan perilaku berpengetahuan (memahami), afective mewakili perilaku emosional tertentu, dan psychomotor menuntut kemampuan fisik.

D. Pelatihan

Pelatihan merujuk pada perolehan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi sebagai hasil dari pengajaran keterampilan kejuruan atau pengetahuan praktis yang berhubungan dengan kompetensi tertentu. Pelatihan menjadi inti pembelajaran di satuan pendidikan teknik (juga dikenal sebagai perguruan tinggi teknis atau politeknik).

Beberapa komentator menggunakan istilah serupa untuk belajar meningkatkan kinerja: pelatihan dan pengembangan. Di lembaga bisnis dikenal:

  • On-the-job training berlangsung dalam situasi kerja normal, menggunakan alat yang sebenarnya, peralatan, dokumen atau bahan yang akan digunakan saat latihan. Jenis pelatihan ini dipandang sebagai pelatihan yang paling efektif dalam lembaga profesional.
  • Off-the-job training berlangsung jauh dari situasi kerja normal – menyiratkan bahwakaryawan tidak dihitung sebagai pekerja produktif langsung saat pelatihan tersebut dilakukan. Off-the job training memiliki keuntungan bahwa hal itu memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari pekerjaan dan lebih berkonsentrasi dengan saksama pada pelatihan itu sendiri. Jenis pelatihan ini jelas efektif untuk menanamkan nilai-nilai.

 

E. Kesimpulan

Pendidikan adalah pilar paling penting dalam membangun masya-rakat berbudaya dan berperadaban. Peran itu hingga kini tidak tergantikan dan bahkan semakin vital. Jika diamati, konsepsi pendidikan telah menga-lami tiga evolusi besar. Evolusi pertama berlangsung saat individu menyadari pendidikan sebagai instrumen pengembangan keperibadian. Fase ini ditandai dengan semangat personal untuk mengamati dan mengembangkan pengamatannya menjadi pengetahuan yang bersifat penguasaan individual. Evolusi kedua berlangsung saat manusia merasa tidak cukup hanya dengan kemampuan individual. Jika perubahan adalah orientasi akhir belajar, maka belajar semestinya berlangsung secara lebih massive. Sistem sekolah adalah evolusi ke dua dari sistem belajar manusia. Dan sekarang, kita memasuki evolusi ketiga, saat kita menyadari bahwa pendidikan dapat menekan kesenjangan antara bangsa kaya dan miskin. Pendidikan dalam evolusi ketiga digunakan untuk kesetaraan bersama diantara bangsa-bangsa di dunia ini. Fase ini antara lain dikenali melalui konsep education for all (pendidikan untuk semua), dan longlife education (pendidikan sepanjang masa).

Pembelajaran dan pelatihan adalah implementasi wujud pendidi-kan. Pembelajaran dalam pengertian praktek transformasi nilai-nilai didik terhadap peserta didik melalui pembelajaran formal, informal maupun non-formal. Sementara pelatihan lebih berorientasi transformasi penguasaan keterampilan tertentu yang dapat digunakan oleh seseorang atau kelompok untuk mengembangkan posisi profesionalnya. Dua istilah ini menjadi urgent karena tujuan pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa melalui proses pembelajaran dan pelatihan.

 

F. Daftar Pustaka

 

Dewey, John, Democracy and Education, (1916), New York: Macmilan Co.

Dewantara, Ki Hajar, (1977), Pendidikan, Yogyakarta: Majelis Luhur Per-satuan Taman Siswa.

Hergenhahn, B.R., & Matthew H.Olson, (2008), Theories of Learning, Pearson Education.

http://www.etymonline.com/index.php?term=educate;video.ted.com/talks/podcast/AimeeMullins_2009P.mp4

O’neil, William F., (1981), Educational Ideologies; Contemporary Expres-sions of Educational Philosophies, California: Goodyear Pub-lishing Company.

Ornstein, C. Allan & Francis P.Hunkins, (2004), Curriculum; Foundation, Principles, and Issues, US: Pearson Education.

Sargent, S.S. & Stafford, K.R. (1965), Basic Teaching of the Great Psychologists, NY: Doubleday.


[1] Ucapannya yang terkenal adalah “what’s wrong with American classroom” di hadapan para guru-guru dan gubernur negara-negara bagian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: