Multiple Intelligence Gardner dan Gaya Belajar

Multiple Intelligences dan Gaya Belajar
(Dikutif dari Bab Multiple Intelegencies and Learning Styles dalam Buku Emerging Perspective on Learning, Teaching and Technology: Emily Giles, Sarah Pitre, Sara Womack)

Pengantar

Curry (1983) menggambarkan perkembangan teori belajar dalam beberapa dekade terakhir dan mengurai hubungan diantara teori-teori belajar tersebut dengan model lapisan bawang (onion model) yang meliputi personality learning theories, information processing theories, social learning theories, dan multidimensional and instructional theories.

Personality learning theories mendefenisikan pengaruh kepribadian sebagai dasar preferensi untuk mendapatkan dan mengintegrasikan berbagai informasi. Model yang digunakan dalam teori ini termasuk didalamnya indikator yang dibuat oleh Myers-Briggs, dimana kepribadian diukur secara dikotomis antara ekstroversi vs introversi, sensing vs intuisi, berpikir vs merasakan, dan menilai vs persepsi.  Demikian pula temperament sorter Keirsey, yang mengklasifikasikan temperamen manusia sebagai  rationalis, idealis, artisan, dan atau guardian.

Information processing theories adalah pendekatan yang digunakan untuk mengasimilasi informasi. Model pengolahan informasi David Kolb misalnya mengidentifikasi dua kegiatan belajar yang terpisah: persepsi dan pengolahan (perception and processing).

Teori belajar Sosial (social learning theories) mempelajari bagaimana siswa berinteraksi di dalam kelas. Termasuk dalam teori ini adalah tipe-tipe pelajar menurut Reichmann dan Grasha yang mengidentifikasi pemelajar:  independen, dependen, kolaboratif, kompetitif, partisifatif, dan penyendiri (avoidant). Teori multidimensi dan instruksional menempatkan lingkungan siswa sebagai preferensi untuk belajar. Diantaranya adalah gaya belajar model Dunn and Dunn dan teori multiple intelligences Howard Gardner. Bab ini berfokus pada teori pembelajaran oleh Howard Gardner,

Multiple Intelligences Theory

Teori Howard Gardner tentang multiple intelligences memanfaatkan aspek kognitif dan perkembangan psikologi, antropologi, dan sosiologi untuk menjelaskan kecerdasan manusia. Meskipun konsep ini telah dipelajari bertahun-tahun sebelumnya, teori ini baru diperkenalkan pada tahun 1983, dalam buku Gardner, Frames of Mind.

Gardner melakukan penelitian terhadap otak manusia dan mewawancara para korban stroke, prodigies, dan individu dengan autisme. Berdasarkan penelitian itu, Gardner menyusun delapan kriteria untuk mengidentifikasi tujuh (dia kemudian menambahkan kedelapan dan mempertimbangkan 1 / 9) kecerdasan secara terpisah. Delapan Kriteria yang digunakan oleh Gardner untuk mengidentifikasi kecerdasan tercantum di bawah ini:

• Isolasi oleh kerusakan otak / bukti neurologis

• Eksistensi prodigies, sarjana idiot, dan individu luar biasa

• Perbedaan perangkat operasi inti

• Tahapan pengembangan oleh para ahli

• Evolusi logis sejarah

• Kerentanan pengkodean dalam suatu sistem symbol

• Dukungan dari psikolog eksperimental

• Dukungan dari penelitian psikometrik

Kriteria-kriteria tersebutlah yang digunakan untuk mengidentifikasi tujuh kecerdasan secara terpisah. Selanjutnya, pada tahun 1999 dipublikasikan Gardner’s Intelligence Reframed, dua kecerdasan ditambahkan hingga terdapat sembilan kecerdasan yakni; kecerdasan verbal /linguistic, logical/mathematical, visual/spatial, bodili-kinesthetical, musical, interpersonal, intrapersonal, naturalistic dan eksistential.

Teori Gardner mendapat tantangan karena secara tradisional ide tentang intelegensia diyakini sebagai entitas tetap sepanjang hidup manusia, dan kecerdasan manusia yang dapat diukur hanyalah kemampuan logis dan kemampuan berbahasanya saja. Menurut teori Gardner, kecerdasan meliputi kemampuan untuk membuat dan memecahkan masalah, menciptakan produk atau menyediakan jasa yang dinyatakan dalam suatu kebudayaan atau masyarakat. Lebih rinci, teori Gardner menjelaskan:

  • Semua manusia memiliki sembilan kecerdasan dengan derajat berbeda-beda.
  • Setiap individu memiliki profil kecerdasan yang berbeda.
  • Pendidikan dapat ditingkatkan dengan penilaian profil kecerdasan siswa dan merancang kegiatan yang sesuai.
  • Setiap kecerdasan menempati area yang berbeda di dalam otak.
  • Kesembilan kecerdasan dapat beroperasi dalam mendampingi secara independen satu sama lain.
  • Kesembilan kecerdasan dapat mendefinisikan spesies manusia.

Gardner, seorang Profesor Pendidikan di Harvard University, bersama peneliti dan pendidik lainnya terus bekerja ke arah pendekatan yang lebih holistik untuk pendidikan melalui zero project. Untuk informasi lebih lanjut tentang proyek dan penelitian yang terlibat dalam Proyek Zero, kunjungi situs webnya di http://www.pz.harvard.edu.

Meskipun teori ini awalnya tidak dirancang untuk digunakan dalam aplikasi kelas, namun banyak pendidik yang menganut dan melakukan berbagai adaptasi dalam pengembangan pembelajaran. Teori ini membantu para guru mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa di dalam kelas. Penelitian Gardner mampu mengartikulasikan itu dan memberikan arahan tentang bagaimana meningkatkan kemampuan siswa dalam setiap mata pelajaran yang diberikan. Guru didorong untuk mulai memikirkan perencanaan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan berbagai kecerdasan. Berangkat dari pemikiran baru ini, sekolah-sekolah semacam Sekolah Ross di New York, sebuah lembaga pendidikan yang independen, atau Key Learning Community, berkembang menjadi sekolah yang diminati publik di Indianapolis karena  menggunakan kurikulum Multiple Intelligences. Kesembilan intelegensia Gardner akan dijelaskan secara satu per satu seperti berikut.

Verbal / Linguistic

Intelegensia verbal/linguistik mengacu pada kemampuan individu untuk memahami dan memanipulasi kata-kata dan bahasa. Setiap orang yang berpikir memiliki kecerdasan ini dengan tingkatan berbeda-beda. Intelegensia ini termasuk kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan semua bentuk komunikasi verbal dan tertulis lainnya. Guru dapat meningkatkan kecerdasan verbal/linguistik siswa dengan menyiapkan berbagai jurnal untuk dibaca, bermain permainan kata-kata, dan dengan mendorong diskusi. Orang dengan keterampilan retorika dan pidato kuat seperti penyair, penulis, dan pengacara menunjukkan kecerdasan linguistik yang kuat. Beberapa contoh T.S. Elliot, Maya Angelou, dan Martin Luther King Jr. Secara tradisional, kecerdasan verbal/linguistik dan kecerdasan logis/ Matematik mendapat penghargaan tinggi di bidang pendidikan dan lingkungan belajar.

Logical/Matematical

Intelegensi logical/matematical mengacu pada kemampuan individu untuk bekerja dengan data: mengumpulkan, dan mengatur, menganalisis dan menafsirkan, me-nyimpulkan dan meramalkan sesuatu. Individu yang kuat dalam kecerdasan ini memiliki kemampuan melihat pola dan hubungan antar substansi. Individu dengan kemampuan ini pola berpikirnya berorientasi pada: logika induktif dan deduktif, numerasi, dan pola abstrak. Mereka cenderung menjadi pemecah masalah secara kontemplatif; seorang yang suka bermain dengan strategi dan memecahkan masalah secara matematis. Menjadi kuat dalam kecerdasan ini sering menunjukkan kemampuan ilmiah yang besar. Guru dapat memperkuat kecerdasan ini dengan mendorong penggunaan bahasa pemrograman komputer, kegiatan berpikir kritis, linier outlining, latihan peregangan kognitif Piaget, skenario fiksi ilmiah, teka-teki logis, dan melalui penggunaan logika atau presentasi subjek berurutan. Beberapa contoh kehidupan orang yang berbakat dengan kecerdasan ini adalah Albert Einstein, Niehls Bohr, dan John Dewey.

 

Visual / Spatial

Intelegensi visual/spatial mengacu pada kemampuan untuk membentuk dan memanipulasi model mental. Individu dengan kekuatan di bidang ini bergantung pada kemampuan berpikir visual dan sangat imajinatif. Orang dengan kecerdasan seperti ini cenderung lebih mudah belajar dari presentasi visual seperti film, gambar, video, dan demonstrasi dengan menggunakan model dan alat peraga. Mereka suka menggambar, melukis, atau memahat. Mereka sering mengungkapkan ide-ide mereka dan perasaan (moods) mereka melalui seni. Individu dengan intelegensia ini sering melamun, membayangkan dan berpura-pura atas sesuatu. Mereka pandai membaca diagram dan peta dan menikmati memecahkan labirin dan teka-teki jigsaw. Guru dapat memupuk kecerdasan ini dengan memanfaatkan bagan, grafik, diagram, grafic organizers, videotapes, warna, kegiatan seni, mencoret-coret, mikroskop dan software grafis komputer. Hal ini dapat dicirikan sebagai aktivitas otak kanan. Pablo Picasso, Bobby Fischer, dan Georgia O’Keefe adalah beberapa contoh dari orang-orang berbakat dengan kecerdasan ini.

 

Bodily/Kinesthetic

Intelegensia ini merujuk kepada orang-orang yang memproses informasi melalui sensasi yang mereka rasakan dalam tubuh mereka. Orang-orang ini biasanya suka bergerak, menyentuh orang yang mereka ajak bicara dan bertindak di luar ruangan. Mereka keterampilan dalam aktifitas otot baik otot kecil maupun besar, mereka menikmati semua jenis olahraga dan aktivitas fisik. Mereka sering mengekspresikan diri melalui gerak tarian. Guru dapat mendorong pertumbuhan intelegensia ini melalui sentuhan, perasaan, gerak, improvisasi, kegiatan “hands-on“, aktifitas gerak, ekspresi wajah dan latihan relaksasi fisik. Beberapa contoh orang yang berbakat dengan kecerdasan ini adalah Michael Jordan, Martina Navratilova, Jim Carrey dan Tukul Arwana.

 

Naturalistic

Kecerdasan naturalistik terlihat pada seseorang yang mengolah informasi misalnya dengan mengklasifikasikan tanaman, hewan, dan mineral termasuk penguasaan taksonomi. Mereka adalah pemikir holistik yang mengenali berbagai spesimen dan nilai-nilai yang tidak biasa. Mereka memiliki kesadaran spesies seperti flora dan fauna yang ada di sekitar mereka. Mereka melihat taksonomi alami dan buatan seperti dinosaurus hingga ganggang dan mobil hingga pakaian. Yang terbaik yang dapat dilakukan seorang guru adalah mengembangkan kecerdasan ini dengan menunjukkan hubungan berbagai sistem spesies, dan kegiatan klasifikasi. Mendorong studi hubungan seperti pola dan ketertiban, instrumen membandingkan atau kontras kelompok atau memperlihatkan sistem koneksi kehidupan nyata serta isu-isu sains. Charles Darwin dan John Muir adalah contoh orang-orang yang berbakat dengan cara ini.

 

Musical Intelligence

Musical intelligence mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami, membuat, dan menginterpretasikan pitches musik, timbre, ritme, dan nada serta kemampuannya menulis musik. Guru dapat mengintegrasikan jenis intelegensia ini ke dalam pelajaran mereka dengan mendorong kecerdasan musik siswa dengan memainkan musik untuk kelas dan menetapkan tugas-tugas yang melibatkan siswa membuat lirik tentang materi yang diajarkan. Komponis dan instrumentalis seperti Wolfgang Amadeus Mozart dan Louis Armstrong adalah contoh hebat pemilik intelegensia ini.

Interpersonal

Meskipun Gardner mengelompokkan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal secara terpisah, ada banyak interaksi di antara keduanya dan sering dikelompokkan bersama. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk menafsirkan dan menanggapi suasana hati, emosi, motivasi, dan tindakan orang lain. kecerdasan interpersonal juga memerlukan komunikasi yang baik dan keterampilan berinteraksi, dan kemampuan menunjukkan empati terhadap perasaan orang lain. Guru dapat mendorong pertumbuhan Kecerdasan interpersonal dengan merancang pelajaran yang mencakup kerja kelompok dan dengan perencanaan kegiatan pembelajaran kooperatif. Konselor dan pekerja sosial adalah profesi yang memerlukan kekuatan interpersonal. Beberapa contoh orang dengan kecerdasan ini seperti Gandhi, Ronald Reagan, dan Bill Clinton.

Intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri. Untuk menunjukkan kekuatan dalam intrapersonal intelligence, seorang individu harus mampu memahami emosi mereka sendiri, motivasi, dan menyadari kekuatan dan kelemahan mereka sendiri. Guru dapat menerapkan kegiatan reflektif. Yang penting untuk dicatat bahwa kecerdasan ini melibatkan orang lain. Seorang individu harus dapat memanfaatkan kecerdasannya yang lain untuk sepenuhnya mengekspresikan kecerdasan intrapersonalnya. Penulis otobiografi klasik seperti Jean Paul Sartre dan Frederick Douglas adalah contoh individu yang dipamerkan kuat secara interpersonal dalam hidup mereka.

Kecerdasan kesembilan adalah kecerdasan existential yang belum sepenuhnya diterima para guru untuk dipraktekkan di dalam kelas. Kecerdasan ini meliputi kemampuan untuk mengajukan dan merenungkan pertanyaan tentang keberadaan (eksistensi) termasuk keberadaan hidup dan mati. Hal ini akan berada pada domain para filsuf dan pemimpin agama.

Tabel di bawah menyimpulkan kekuatan, preferensi belajar, dan kebutuhan yang sesuai dengan jenis kecerdasan.

Tabel 1. Ringkasan Delapan Intelligensi

Intelegensi Area Strengths Preferences Learns Best Trough Needs
Verbal/Linguistic Writing, reading, memorizing dates, thinking in words, telling stories Write, read, tell stories, talk, memorize, work at solving puzzles Hearing and seeing words, speaking, reading, writing, discussing and debating Books, tapes, paper diaries, writing tools, dialogue, discussion, debated, stories, etc.
Mathematical/Logical Math, logic, problem-solving, reasoning, patterns Question, work with numbers, experiment, solve problems Working with relationships and patterns, classifying, categorizing, working with the abstract Things to think about and explore, science materials, manipulative, trips to planetarium and science museum, etc.
Visual/Spatial Maps, reading, charts, drawing, mazes, puzzles, imagining things, visualization Draw, build, design, create, daydream, look at pictures Working with pictures and colors, visualizing, using the mind’s eye, drawing LEGO’s, video, movies, slides, art, imagination games, mazes, puzzles, ilustrated book, trip to art museum, etc.
Bodily/Kinesthetic Athletics, dancing, crafts, using tools, acting Move around, touch and talk, body language Touching, moving, knowledge through bodily sensations, processing Role-play, drama, things to build, movement, sports and physical games, tactile experiences, hands on learning, etc.
Musical Picking up sounds, remembering melodies, rhythms, singing Sing, play an instrument, listem to music, hum Rhythm, singing, melody, listening to music and melodies Sing-along time, trips to concerts, music playing at home and school, musical instrument, etc.
Interpersonal Leading, organizing, understanding people, communicating, resolving conflicts, selling Talk to people, have friends, join groups Comparing, relating, sharing, interviewing, cooperating Friends, group games, social gatherings, community events, clubs, mentors/apprenticeships, etc.
Intrapersonal Recognizing strengths and weaknesses, setting goals, understanding self Work alone, reflect pursue interest Working alone, having space, reflecting, doing self-paced projects Secret places, time alone, self-paced projects, choices, ets.
Naturalistic Understanding nature, making distinctions, identifying flora and fauna Be involved with nature, make distinction Working in nature, exploring living things, learning about plants and natural events Order, same/different, connections to real life and science issues, patterns

Multiple Intelligences di dalam Kelas

Ada banyak cara untuk mengimplementasikan teori multiple intelligences ke dalam kurikulum, meski tidak ada satupun metode yang diset khusus untuk itu. Beberapa guru mendirikan pusat-pusat belajar dengan sumber daya dan bahan belajar dengan mempromosikan perlakuan pembelajaran secara berbeda terhadap siswa dengan intelegensi berbeda. Ms Cunningham misalnya, menciptakan situasi belajar dengan perlengkapan seni di dalam kelasnya. Instruktur lain mendesain kelasnya dengan mensimulasi situasi kehidupan nyata. Perencanaan yang cermat selama proses desain pelajaran akan membantu untuk memastikan instruksi kualitas dan pengalaman siswa yang berharga di dalam kelas.

Model pembelajaran lainnya, seperti pembelajaran berbasis proyek dan kolaboratif dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam pelajaran berbasis multiple intelligences. Belajar kolaboratif memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi kecerdasan interpersonal mereka, sementara pembelajaran berbasis proyek dapat membantu kegiatan-kegiatan terstruktur yang dirancang untuk mengolah sembilan kecerdasan. Sebagai contoh, Ms Cunningham menggunakan aspek pembelajaran berbasis proyek di kelasnya dengan memungkinkan siswa untuk merencanakan, membuat, dan prosessing (melalui refleksi) informasi seluruh unit mengenai hak-hak sipil di samping mengintegrasikan kegiatan-kegiatan yang mengajarkan kecerdasan. Model pembelajaran khusus tersebut memungkinkan siswa untuk bekerja sama mengeksplorasi topik dan menciptakan sesuatu sebagai produk akhir. Kegiatan semacam ini dapat bekerja baik dengan aplikasi teori multiple intelligences, yang menempatkan nilai pada kemampuan untuk menciptakan produk.

Bekerja sama dengan media khusus dapat memberikan siswa kesempatan untuk memilih berbagai sumber daya untuk menyelesaikan tugas mereka. Ms Cunningham menggunakan aspek pembelajaran berbasis sumber daya, sebuah model pembelajaran yang menempatkan tanggung jawab utama untuk memilih sumber daya pada siswa. Hal ini penting bagi guru untuk hati-hati memilih aktivitas yang tidak hanya mengajarkan kecerdasan, tetapi juga realistis dalam memilih subyek atau unit pelajaran. Teori multiple intelligences harus meningkatkan, tidak mengurangi apa yang diajarkan. Website Disney berjudul Tapping into Multiple Intelligences menyarankan dua pendekatan untuk menerapkan teori multiple intelligences di dalam kelas. Salah satunya adalah pendekatan berpusat pada guru, dimana instruktur menggabungkan material, sumber daya, dan kegiatan ke dalam pelajaran yang mengajarkan kecerdasan yang berbeda.

Yang lainnya adalah pendekatan student-centered di mana siswa benar-benar menciptakan berbagai bahan yang berbeda untuk menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. Student-Centered memungkinkan siswa untuk secara aktif menggunakan berbagai bentuk kecerdasan. Dalam pelajaran teacher-centered, jumlah kecerdasan yang dieksplorasi selalu lebih dari satu jenis kecerdasan karena sulitnya memanfaatkan satu jenis kecerdasan untuk satu perintah, seperti ceramah yang membutuhkan lebih dari sekedar kecerdasan linguistic. Dalam student-centered, instruktur dapat menggabungkan aspek pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran kolaboratif, atau model penyelidikan berbasis. Dalam kasus seperti itu, kegiatan yang melibatkan sembilan kecerdasan dapat disajikan sebagai pilihan untuk kelas, dengan catatan setiap siswa berpartisipasi dalam satu atau dua tugas.

Manfaat Multiple Intelligences

Manfaat menggunakan teori multiple intelligences di dalam kelas adalah:

  • Sebagai seorang guru dan pembelajar Anda menyadari bahwa ada banyak cara untuk menjadi “pintar”.
  • Semua bentuk kecerdasan sama-sama dirayakan.
  • Dengan memiliki siswa yang mampu membuat karya yang ditampilkan untuk orang tua dan anggota masyarakat lainnya, sekolah Anda bisa melihat pentingnya peran orang tua dan keterlibatan masyarakat dalam proses belajar anak.
  • Meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk berkarya dalam wilayah kemampuannya.
  • Siswa dapat mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan menggunakannya dalam situasi kehidupan nyata.

Untuk membandingkan aplikasi multiple intelligences di dalam kelas, tabel berikut menjelaskan perbedaannya jika diaplikasi ke dalam kelas teacher centered dengan kelas student-centered dapat dilihat pada tabel 2.

Table 2. Multiple Intelligences: Classroom Application (Table added by Brandy Bellamy and Camille Baker, 2005)

Teacher Centered Student Centered

Verbal/Lingusitic

  • Present content verbally
  • Ask questions aloud and look for student feedback
  • Interviews
  • Student Presents Material
  • Students read content and prepare a presentation for his/her classmates
  • Students debate over an issue

Logical/Mathematical

  • Provide brain teasers or challenging questions to begin lessons.
  • Make logical connections between the subject matter and authentic situations to answer the question “why?”
  • Students categorize information in logical sequences for organization.
  • Students create graphs or charts to explain written info.
  • Students participate in webquests associated with the content

Bodily/Kinesthetic

  • Use props during lecure
  • Provide tangible items pertaining to content for students to examine
  • Review using sports related examples (throw a ball to someone to answer a question)
  • Students use computers to research subject matter.
  • Students create props of their own explaining subject matter (shadow boxes, mobiles, etc…)
  • Students create review games.

Visual/Spatial

When presenting the information, use visuals to explain content:</br>

PowerPoint Slides, Charts, Graphs, cartoons, videos, overheads, smartboards

  • Have students work individually or in groups to create visuals pertaining to the information:
  • Posters; timelines; models; powerpoint slides; maps; illustrations, charts; concept mapping

Musical

  • Play music in the classroom during reflection periods
  • Show examples or create musical rythms for students to remember things
  • Create a song or melody with the content embedded for memory
  • Use well known songs to memorize formulas, skills, or test content

Interpersonal

  • Be aware of body language and facial expressions
  • Offer assistance whenver needed
  • Encourage classroom discussion
  • Encourage collaboration among peers
  • Group work strengthens interpersonal connections
  • Peer feedback and peer tutoring
  • Students present to the class
  • Encourage group editing

Intrapersonal

  • Encourage journaling as a positive outlet for expression
  • Introduce web logging (blogs)
  • Make individual questions welcome
  • Create a positive environment.
  • Journaling
  • Individual research on content
  • Students create personal portfolios of work

Naturalistic

  • Take students outside to enjoy nature while in learning process (lecture)
  • Compare authentic subject matter to natural occurrences.
  • Relate subject matter to stages that occur in nature (plants, weather, etc)
  • Students organize thoughts using natural cycles
  • Students make relationships among content and the natural environment (how has nature had an impact?)
  • Students perform community service

Gaya Belajar

Bagian Skenario
Istilah “gaya belajar” umumnya digunakan di berbagai bidang pendidikan dan karenanya, memiliki banyak konotasi. Secara umum, gaya belajar mengacu pada keunikan setiap pelajar menerima dan memproses informasi baru melalui indera mereka. The National Association of Secondary School Principals mendefinisikan gaya belajar sebagai, “perpaduan antara faktor kognitif, afektif, dan karakteristik fisiologis yang berfungsi sebagai indikator yang relatif stabil mengenai bagaimana seorang pelajar merasa, berinteraksi dengan, dan merespon lingkungan belajarnya.” frasa lain yang sering digunakan bergantian dengan gaya belajar adalah istilah gaya persepsi, modalitas belajar, dan preferensi belajar.

Setiap orang lahir dengan preferensi tertentu terhadap gaya tertentu, tetapi budaya, pengalaman, dan mempengaruhi perkembangan preferensi tersebut. Empat gaya belajar yang paling umum dikenal adalah visual, aural, membaca/menulis, dan kinestetik/taktil. Kebanyakan orang belajar melalui seluruh modalitas, namun memiliki kekuatan tertentu dan kelemahan dalam modalitas yang spesifik. Beberapa orang memiliki kecenderungan yang sama untuk lebih dari satu gaya, yang disebut sebagai gaya multimodal. Preferensi ini dapat ditentukan melalui berbagai alat uji misalnya dengan menggunakan kuesioner VARK. Setelah gaya belajar seseorang dipastikan, akomodasi dapat dibuat untuk meningkatkan prestasi akademik dan kreativitas, serta meningkatkan sikap terhadap pembelajaran.
Gaya Belajar Visual
Gaya belajar visual akan efektif jika informasi yang diproses terlihat. Penggambaran dapat mencakup grafik, grafik, diagram alur, panah simbolik, lingkaran, hirarki dan perangkat lain. Peserta didik yang belajar dengan gaya ini berpikir dalam gambar dan memiliki imajinasi hidup.

Gaya Belajar Aural
Aural pelajar memproses informasi paling efektif ketika informasi itu diucapkan atau didengar. Peserta didik merespon dengan baik untuk ceramah dan diskusi dan adalah pendengar yang sangat baik. Mereka juga suka bicara dan menikmati musik dan drama. Ketika mencoba untuk mengingat informasi, pelajar aural sering dapat “mendengar” cara seseorang mengatakan suatu informasi.

Gaya Belajar Membaca/Menulis
Gaya belajar ini paling efektif ketika suatu informasi disajikan dalam format bahasa tertulis. Jenis manfaat belajar dari instruktur yang menggunakan papan tulis untuk poin aksen penting atau memberikan garis-garis besar materi kuliah. Ketika mencoba untuk mengingat informasi, pembelajar dengan gaya ini akan mengingat informasi itu melalui “mata batin” mereka. Banyak akademisi memiliki preferensi yang kuat untuk gaya membaca/menulis.

Gaya Belajar Kinestetik/Taktil

Gaya belajar kinestetik/taktil memproses informasi secara aktif melalui cara-cara fisik. Belajar secara kinestetik mengacu pada gerakan seluruh tubuh sambil belajar taktil mengacu hanya untuk rasa sentuhan. Pelajar dengan gaya ini adalah pendengar yang buruk, dan kehilangan minat dalam pidato panjang. Sebagian besar siswa yang tidak tampil baik di sekolah adalah pelajar kinestetik/taktil. Inti dari gaya belajar ini adalah bahwa pelajar terhubung ke situasi nyata melalui pengalaman, contoh, praktek atau simulasi.

Strategi Pembelajaran untuk Tiap Gaya Belajar

Gaya Belajar Visual

  • Ganti kata-kata dengan simbol atau inisial.
  • Terjemahkan konsep ke dalam gambar dan diagram.
  • Underline atau sorot catatan Anda atau buku teks dengan warna yang berbeda.
  • Praktek balik visual Anda kembali ke kata-kata.
  • Membuat flashcards informasi utama dengan kata-kata, simbol, dan diagram.

Gaya Belajar Aural

  • Menghadiri kuliah dan tutorial.
  • Diskusikan topik dengan instruktur dan siswa lainnya.
  • Masukkan ringkasan catatan tentang apa yang mereka dengarkan.
  • Bergabung dengan kelompok studi atau memiliki “teman belajar.”
  • Rekam perkuliahan anda.
  • Ketika mengingat informasi atau memecahkan masalah, berbicaralah dengan keras.

Gaya Belajar Membaca/Menulis

  • Tuliskan informasi penting lagi dan lagi.
  • Bacalah catatan Anda secara pelan.
  • Atur setiap diagram ke dalam laporan.
  • Tulis ulang ide-ide dan prinsip-prinsip dalam kata lain.
  • Buat flashcards kata-kata dan konsep-konsep yang perlu dihafalkan.

Gaya Belajar Kinestetik/Taktil

  • Duduk di dekat instruktur dalam situasi kelas.
  • Membaca dengan suara keras dari buku Anda dan catatan.
  • Salin ke permukaan poin kunci dengan tulisan besar (yaitu papan tulis atau papan kuda-kuda).
  • Salin poin kunci menggunakan perangkat lunak pengolah kata.
  • Dengarkan kaset audio dari catatan Anda selama berolahraga.
  • Peroleh informasi melalui kunjungan lapangan, laboratorium, trial and error, pameran, koleksi, dan contoh “hands-on”.
  • Letakkan contoh kehidupan nyata ke dalam ringkasan catatan Anda.
  • Ingat percobaan dan permainan peran.
  • Gunakan gambar dan foto-foto yang menggambarkan sebuah ide.

Pendidikan: Pembelajaran dan Pelatihan

PENDIDIKAN, PEMBELAJARAN DAN PELATIHAN

(Batasan dan Perbedaannya)

Oleh: M.Yusuf T.

 

A. Pendahuluan

Tema pendidikan diyakini sebagai tema kunci peradaban modern oleh karena perannya sebagai pusat perubahan konstruktif belum tergantikan di dunia manapun hingga saat ini. Meski demikian, perhatian terhadap sektor pendidikan belumlah semaksimal terhadap pilar perada-ban lainnya seperti teknologi, suatu disiplin yang lahir karena kemajuan pendidikan. Menarik mengutip amatan Theodore R.Sizer, mantan Dekan Fakultas Pendidikan Harvard, “sebuah kualitas yang aneh dalam pendidikan adalah bahwa, sementara kebanyakan orang mengalaminya secara pribadi, hanya segelintir yang mempelajarinya secara serius” (O’neil, 1981).

Patut dicatat bahwa semakin besar suatu negara semakin besar perhatiannya terhadap sektor pendidikan. Hampir semua entitas meletakkan fondasi kebangsaannya di atas filosofi “berpendidikan”.Negara-negara maju umumnya mengembangkannya merambat dari satu fase sejarah ke fase sejarah berikutnya. Amerika misalnya, memandang pendidikan sebagai filosofi dasar berdemokrasi yang jika ditelusuri ke belakang sangat dipengaruhi oleh pioneer mereka seperti John Dewey. Dewey menyebutkan bahwa pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan dasar secara intelektual dan emosional dapat dirumuskan sebagai teori umum yang tidak tersubordinasi oleh apapun (Dewey: 1916). Dapat dipahami mengapa pemimpin Amerika seperti John F.Kennedy menyalahkan sekolah sebagai refresentasi buruki kualitas sumber dayaAmerika ketika dilanda krisis tahun 60-an[1].

Semangat sama dapat ditemukan dalam dasar bernegara Republik Indonesia. Dalam pembukaan UUD 45 disebutkan tujuan berbangsa adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Prasa mencerdaskan menunjukkan betapa para founding fathers sejak awal melihat kunci survive bangsa ini adalah pendidikan. Jika dua bangsa ini, Amerika dan Indonesia dibandingkan, terlihat dua jalan berbeda orientasi pengem-bangan pendidikan masing-masing. Amerika modern memandang pendi-dikan sebagai bagian penting dari pembangunan ekonomi, sementara Indonesia sebaliknya, ekonomi adalah bagian penting bagi pembangunan pendidikan. Mungkin karena itu tidak ada tokoh atau pemimpin yang menyalahkan sekolah di tengah marak “kejahatan struktural” di negeri ini.

Tulisan ini coba mengulas dua ranah penting pendidikan; ranah makro yakni pendidikan itu sendiri, dan ranah mikro yakni praksis pendidikan, pembelajaran dan pelatihan. Dua ranah yang berkaitan secara sinergis.

 

B. Pendidikan

Pendidikan secara umum berarti setiap tindakan atau pengalaman yang memiliki efek formatif pada karakter, pikiran atau kemampuan fisik dari individu. Secara teknis, pendidikan adalah proses dimana masyarakat sengaja mentransmisikan akumulasi pengetahuan, keterampilna dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi.

Pendidikan yang merupakan terjemahan dari education (Inggris) secara etimologis adalah derivat kata educare (Latin) yang berarti “bring up” (mendidik atau membesarkan). Kata itu berhubungan dengan educere yang berarti “bring out” (mengeluarkan atau memunculkan) dan ducere yang berarti “to lead” (memimpin).

Dari berbagai kosa kota tersebut dapat ditarik beberapa kata kunci penting untuk mendefenisikan pendidikan yaitu: mendidik, membesarkan, mengeluarkan, memunculkan dan memimpin. Jika kata-kata itu diramu, maka dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah upaya mendidik, membesarkan anak dengan mengeluarkan atau memunculkan kemampuan potensialnya untuk memimpin dirinya menuju masa depan.

Dalam perkembangannya, pendidikan didefenisikan dalam berbagai cara. Driyakara mendefenisikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda. Makna memanusiakan manusia muda lebih lanjut disebutkan sebagai proses mengangkat manusia muda ke taraf insani.Karena itu, pendidikan juga adalah proses untuk menuntun anak menggunakan kemampuan kodratinya agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara, 1977).

Taraf insani yang dimaksudkan oleh Driyakara adalah tahap dewasa (mature) yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk memilih dengan berbagai pertimbangan. Dalam tradisi Islam tahap dewasa disebut baligh yang menjadi syarat melekatnya kewajiban atas individu.

Pendidikan juga mengalami teoritisasi sehingga muncul istilah teori pendidikan. Teori yang berarti pendidikan adalah teori yang ditujukan terhadap aplikasi dan interpretasi pendidikan dan pembelajaran. Beberapa teori menggunakan pendekatan deduktif dan ada yang induktif. Meskipun demikian, teori pendidikan menjadi sangat penting karena telah menjadi istilah umum untuk berbagai pendekatan ilmiah dalam pengajaran, assesment dan penyusunan regulasi pendidikan. Beberapa pendekatan itu dapat disebutkan:

1.    Pendekatan ekonomi. Teori ini menyebutkan bahwa pendidikan esensial untuk membangun perekonomian suatu negara. Prediksi teoretisnya bahwa negara-negara miskin harus tumbuh lebih cepat dari negara-negara kaya karena mereka bisa mengadopsi teknologi majusesudah dicoba dan diuji oleh negara-negara kaya. Transfer teknologi memerlukan manajer berpengetahuan dan teknisi yang mampu mengoperasikan mesin-mesin baru untuk menutup kesenjangan keduanya. Oleh karena itu, kemampuan negara untuk belajar merupakan “human capital” berharga bagi suatu negara.

2.    Pendekatan sejarah. Pendekatan ini digunakan untuk menganalisis perkembangan pemikiran dan praktek pendidikan dari masa ke ma-sa. Hasilnya penting karena evolusi kebudayaan dan bahkan kemanusiaan tidak bisa dilepaskan dari cara-cara manusia mentransmisikan pengetahuannya. Pendekatan ini juga melahirkan teori tentang pengembangan pengetahuan dalam kebudayaan manusia hingga melahirkan sistem sekolah.

3.    Pendekatan filsafat. Menyebut filsafat pendidikan berarti menggunakan filsafat sebagai alat analisis bagi pendidikan dan masalah-masalahnya. Bisa juga dimaksudkan sebagai disiplin yang mengkaji tujuan-tujuan, bentuk-bentuk, metode-metode, atau hasil dari proses didik atau menjadi terdidik. Pendekatan ini juga disebut metadiciplinary merujuk pada objek kajiannya; konsep, tujuan, dan metode-metode yang dikembangkan dalam lapangan pendidikan.

4.    Pendekatan psikologi. Psikologi mempelajari cara-cara manusia belajar dalam setting pembelajaran, intervensi untuk mengefektifkan pembelajaran, psikologi pengajaran (melahirkan educational psichologists), dan psikologi sosial dalam kaitannya dengan sekolah sebagai organisasi (melahirkan school psichologists).Oleh karena asumsi psikologi tidak dapat diterapkan secara langsung dalam pendidikan (pedagogy) (Snelbecker, 1974), maka dari perspektif ini berkembang dan berelasi dengan disiplin lain dan melahirkan beberapa disiplin seperti instructional design, teknologi pendidikan, pengorganisasian belajar, pendidikan khusus dan managemen kelas (Lucas, Blazek, & Raley, 2006).

5.    Pendekatan sosiologis. Pendekatan ini mempelajari bagaimana institusi sosial mempengaruhi proses dan hasil pendidikan atau sebaliknya. Berbagai studi menyebutkan bahwa pendidikan dapat dipahami sebagai alat mengatasi berbagai masalah sosial, wadah mencapai kesetaraan sosial serta kesejahteraan dan status lainnya (Sargent, 1965).

C. Pembelajaran

Pembelajaran adalah implementasi praktis pendidikan. Pembelaja-ran merupakan terjemahan kata instructional. Ada kata lain yang kadang-kala dipahami sama dengan pembelajaran yaitu belajar-mengajar. Meski-pun demikian, beberapa ahli menyebutkan bahwa pembelajaran secara paradigmatik berbeda dengan belajar-mengajar (teaching). Paradigma pembelajaran diasosiasikan dengan paradigma leaners-centered sebagai anti-thesis paradigma teacher-centered yang memposisikan guru sebagai pusat transformasi nilai belajar.

Apapun paradigmanya, pembelajaran berhubungan dengan aktifitas belajar baik oleh peserta didik maupun pendidik. Belajar adalah memperoleh pengetahuan baru atau memodifikasi yang ada, perilaku, keterampilan, nilai, atau preferensi dan bisa melibatkan sintesa berbagai jenis informasi. Kemampuan untuk belajar dimiliki oleh manusia, hewan dan beberapa mesin.

Belajar sendiri diteorisasi dalam banyak cara. Teori-teori itu dapat dikenali dalam beberapa paradigma antara lain:

1.    Paradigma fungsional; Thorndike, Skinner, Hull.

2.    Paradigma asosiasistik; Pavlov, Guthrie, Estes.

3.    Paradigma kognitif; Teori Gestalt, Piaget, Tolman, Bandura.

4.    Paradigma neuropsikologis; Hebb.

5.    Paradigma evolusioner; Bolles.

Paradigma pertama disebut fungsionalistik karena mencerminkan pengaruh Darwinisme yang menekankan pengaruh antara belajar dengan penyesuaian diri terhadap lingkungan. Paradigma kedua disebut asosiasistik karena mempelajari proses belajar dalam terminologi asosiasi yang dipengaruhi oleh Aristoteles dan dikembangkan oleh Locke, Barkeley dan Hume. Paradigma kognitif dipengaruhi oleh tradisi idealisme Plato melalui Descartes, Kant, dan para psikolog yang menekankan sifat kognitif dalam belajar. Paradigma keempat disebut neuropsikologis karena berusaha mengisolasi korelasi neurofisiologis dari hal-hal seperti belajar, persepsi, pemikiran, dan kecerdasan. Paradigma ini adalah manifestasi dari rangkaian riset yang diawali dengan pemisahan antara tubuh dan pikiran oleh Descartes. Perkembangannya sekarang berupaya kembali menyatukan proses fisiologis dan mental. Paradigma terakhir disebut revolusioner sebab teori-teorinya mengacu pada sejarah evolusi proses belajar organisme (Ornstein at all, 2004).

Pembelajaran dapat pula dibedakan menurut bentuknya, formal dan non-formal learning. Pembelajaran formal ditandai dengan keberlangsungan belajar pada suatu tempat dimana terjadi interaksi diantara guru dan siswa atau siswa dengan siswa. Bentuk ini banyak ditemukan dalam sistem sekolah. Sementara pembelajaran non-formal berlangsung dalam suasana interaksional yang lebih bebas. Dewasa ini dikembangkan pembelajaran yang mengkombinasikan formal, informal, dan non-formal pembelajaran. Kombinasi itu dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang lebih nyata di dalam sistem pembelajaran.

Domain pembelajaran dapat dikategorikan ke dalam tiga jenis (taxonomi Bloom); cognitive, afective, dan psychomotor. Masing-masing domain mewakili perilaku tertentu. Cognitive menunjukkan perilaku berpengetahuan (memahami), afective mewakili perilaku emosional tertentu, dan psychomotor menuntut kemampuan fisik.

D. Pelatihan

Pelatihan merujuk pada perolehan pengetahuan, keterampilan, dan kompetensi sebagai hasil dari pengajaran keterampilan kejuruan atau pengetahuan praktis yang berhubungan dengan kompetensi tertentu. Pelatihan menjadi inti pembelajaran di satuan pendidikan teknik (juga dikenal sebagai perguruan tinggi teknis atau politeknik).

Beberapa komentator menggunakan istilah serupa untuk belajar meningkatkan kinerja: pelatihan dan pengembangan. Di lembaga bisnis dikenal:

  • On-the-job training berlangsung dalam situasi kerja normal, menggunakan alat yang sebenarnya, peralatan, dokumen atau bahan yang akan digunakan saat latihan. Jenis pelatihan ini dipandang sebagai pelatihan yang paling efektif dalam lembaga profesional.
  • Off-the-job training berlangsung jauh dari situasi kerja normal – menyiratkan bahwakaryawan tidak dihitung sebagai pekerja produktif langsung saat pelatihan tersebut dilakukan. Off-the job training memiliki keuntungan bahwa hal itu memungkinkan orang untuk melepaskan diri dari pekerjaan dan lebih berkonsentrasi dengan saksama pada pelatihan itu sendiri. Jenis pelatihan ini jelas efektif untuk menanamkan nilai-nilai.

 

E. Kesimpulan

Pendidikan adalah pilar paling penting dalam membangun masya-rakat berbudaya dan berperadaban. Peran itu hingga kini tidak tergantikan dan bahkan semakin vital. Jika diamati, konsepsi pendidikan telah menga-lami tiga evolusi besar. Evolusi pertama berlangsung saat individu menyadari pendidikan sebagai instrumen pengembangan keperibadian. Fase ini ditandai dengan semangat personal untuk mengamati dan mengembangkan pengamatannya menjadi pengetahuan yang bersifat penguasaan individual. Evolusi kedua berlangsung saat manusia merasa tidak cukup hanya dengan kemampuan individual. Jika perubahan adalah orientasi akhir belajar, maka belajar semestinya berlangsung secara lebih massive. Sistem sekolah adalah evolusi ke dua dari sistem belajar manusia. Dan sekarang, kita memasuki evolusi ketiga, saat kita menyadari bahwa pendidikan dapat menekan kesenjangan antara bangsa kaya dan miskin. Pendidikan dalam evolusi ketiga digunakan untuk kesetaraan bersama diantara bangsa-bangsa di dunia ini. Fase ini antara lain dikenali melalui konsep education for all (pendidikan untuk semua), dan longlife education (pendidikan sepanjang masa).

Pembelajaran dan pelatihan adalah implementasi wujud pendidi-kan. Pembelajaran dalam pengertian praktek transformasi nilai-nilai didik terhadap peserta didik melalui pembelajaran formal, informal maupun non-formal. Sementara pelatihan lebih berorientasi transformasi penguasaan keterampilan tertentu yang dapat digunakan oleh seseorang atau kelompok untuk mengembangkan posisi profesionalnya. Dua istilah ini menjadi urgent karena tujuan pendidikan tidak mungkin tercapai tanpa melalui proses pembelajaran dan pelatihan.

 

F. Daftar Pustaka

 

Dewey, John, Democracy and Education, (1916), New York: Macmilan Co.

Dewantara, Ki Hajar, (1977), Pendidikan, Yogyakarta: Majelis Luhur Per-satuan Taman Siswa.

Hergenhahn, B.R., & Matthew H.Olson, (2008), Theories of Learning, Pearson Education.

http://www.etymonline.com/index.php?term=educate;video.ted.com/talks/podcast/AimeeMullins_2009P.mp4

O’neil, William F., (1981), Educational Ideologies; Contemporary Expres-sions of Educational Philosophies, California: Goodyear Pub-lishing Company.

Ornstein, C. Allan & Francis P.Hunkins, (2004), Curriculum; Foundation, Principles, and Issues, US: Pearson Education.

Sargent, S.S. & Stafford, K.R. (1965), Basic Teaching of the Great Psychologists, NY: Doubleday.


[1] Ucapannya yang terkenal adalah “what’s wrong with American classroom” di hadapan para guru-guru dan gubernur negara-negara bagian.

Hakekat Pendidikan

Driyakara medefenisikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda. Makna memanusiakan manusia muda lebih lanjut disebutkan sebagai proses mengangkat manusia muda ke taraf insani. Manusia muda, seperti disebut oleh Langeveld, adalah fase pertumbuhan manusia hingga usia dewasa atau kira-kira usia di akhir tingkat pendidikan menengah atas. Proses “memanusiakan” menjadi orientasi proses didik agar anak mencapai taraf insani (mature/baligh) agar dapat berkembang mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya di kemudian hari.

Pemenuhan kebutuhan hidup (needs) urgent bagi makhluk manusia karena dengan begitu dunia manusia menjadi berkembang jauh dari dunia makhluk lain. Pada titik ini budaya manusia berkembang karena kemampuannya untuk belajar. Karena itu, pendidikan juga adalah proses untuk menuntun anak menggunakan kemampuan kodratinya agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara). Senada dengan itu, Dewey menyebut pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan pundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

Sebagai instrumen pembentukan kecakapan-kecakapan, pendidikan dipandang sebagai instrumen yang dapat merubah manusia secara efektif ke arah nilai yang menjadi tujuan penyelenggaraannya (W.P.Napitupulu). Di negara-negara maju, sektor pendidikan menjadi sektor strategis dan menjadi jantung kemajuan bangsa. Brain Bussines (2010) menyebutkan bahwa 50% perubahan Jerman karena universitas. J.B. Carroll menyebut pendidikan sebagai the enggine of economic growth (mesin pertumbuhan ekonomi). Karena itu, Cina menempatkan sektor pendidikan satu kamar dengan Menko Perekonomian dan Industri. Di Amerika, sejak kebijakan morril act tahun 1862 yang bertujuan mempercepat industrialisasi dan manufaktur, sektor pendidikan diarahkan untuk menjadi “laboratorium” yang mendukung tujuan kebijakan negara. Sejak itu, setiap provinsi telah memiliki universitas negeri yang sebelumnya bersifat swadaya.

Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pendidikan menjadi pondasi startegis kemajuan nasional.  Amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional denyebutkan “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!