Hakekat Pendidikan

Driyakara medefenisikan pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia muda. Makna memanusiakan manusia muda lebih lanjut disebutkan sebagai proses mengangkat manusia muda ke taraf insani. Manusia muda, seperti disebut oleh Langeveld, adalah fase pertumbuhan manusia hingga usia dewasa atau kira-kira usia di akhir tingkat pendidikan menengah atas. Proses “memanusiakan” menjadi orientasi proses didik agar anak mencapai taraf insani (mature/baligh) agar dapat berkembang mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya di kemudian hari.

Pemenuhan kebutuhan hidup (needs) urgent bagi makhluk manusia karena dengan begitu dunia manusia menjadi berkembang jauh dari dunia makhluk lain. Pada titik ini budaya manusia berkembang karena kemampuannya untuk belajar. Karena itu, pendidikan juga adalah proses untuk menuntun anak menggunakan kemampuan kodratinya agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya (Dewantara). Senada dengan itu, Dewey menyebut pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan pundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

Sebagai instrumen pembentukan kecakapan-kecakapan, pendidikan dipandang sebagai instrumen yang dapat merubah manusia secara efektif ke arah nilai yang menjadi tujuan penyelenggaraannya (W.P.Napitupulu). Di negara-negara maju, sektor pendidikan menjadi sektor strategis dan menjadi jantung kemajuan bangsa. Brain Bussines (2010) menyebutkan bahwa 50% perubahan Jerman karena universitas. J.B. Carroll menyebut pendidikan sebagai the enggine of economic growth (mesin pertumbuhan ekonomi). Karena itu, Cina menempatkan sektor pendidikan satu kamar dengan Menko Perekonomian dan Industri. Di Amerika, sejak kebijakan morril act tahun 1862 yang bertujuan mempercepat industrialisasi dan manufaktur, sektor pendidikan diarahkan untuk menjadi “laboratorium” yang mendukung tujuan kebijakan negara. Sejak itu, setiap provinsi telah memiliki universitas negeri yang sebelumnya bersifat swadaya.

Beberapa ilustrasi di atas menunjukkan bahwa pendidikan menjadi pondasi startegis kemajuan nasional.  Amanat UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional denyebutkan “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: